Penyebab Perlawanan Sultan Baabullah terhadap Portugis ( Materi Lengkap )

Sultan Baabullah (10 Februari 1528 - permulaan 1583), juga ditulis Sultan Babullah atau Sultan Baab (tulisan Eropa) adalah sultan dan penguasa Kesultanan Ternate ke-24 yang berkuasa antara tahun 1570 - 1583. Ia dikenal sebagai sultan Ternate dan Maluku terbesar sepanjang sejarah, yang berhasil mengalahkan Portugis dan mengantarkan Ternate ke puncak keemasan di akhir abad ke-16. Sultan Baabullah juga dijuluki sebagai penguasa 72 pulau berpenghuni yang meliputi pulau–pulau di nusantara bagian timur, Mindanao selatan dan kepulauan Marshall.
Pada masa pemerintahan Sultan Hairun (1534-1570), rakyat Ternate bangkit melaksanakan perlawanan pada Portugis. Sultan Hairun mengobarkan perang mengusir Portugis dari Ternate. Perlawanan itu sudah mengancam kedudukan Portugis di Maluku. Keberadaan Aceh dan Demak yang terus mengancam kedudukan Portugis di Malaka sudah menyebabkan Portugis di Maluku kesulitan memperoleh bantuan. Oleh sebab itu, Gubernur Portugis di Maluku, Lopez de Mesquita mengajukan perundingan damai kepada Sultan Hairun. Selanjutnya, Lopez de Mesquita mengundang Sultan Hairun ke benteng Sao Paulo. Dengan cara itu, Sultan Hairun berhasil ditangkap dan dibunuh oleh Lopez de Mesquita. Peristiwa inilah yang menjadi penyebab perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Sultan Baabullah.
Penyebab Perlawanan Sultan Baabullah
Di bawah kepemimpinan Sultan Baabullah (1570-1583). rakyat menyerang pos-pos perdagangan dan pertahanan Portugis di Maluku. Benteng Sao Paolo dikepung selama lima tahun. Strategi itu berhasil mengalahkan Portugis. Pada tahun 1575 Portugis meninggalkan Maluku. Setelah kepergian Portugis, Ternate berkembang menjadi kerajaan Islam terkuat di Maluku. Sultan Baabullah berhasil membawa Ternate mencapai puncak kejayaan. Wilayah kekuasaan Ternate membentang dari Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Timur di bagian barat hingga Kepulauan Marshall di bagian timur, dari Filipina Selatan di bagian utara hingga Kepulauan Kai dan Nusa Tenggara di bagian selatan. Setiap wilayah atau daerah ditempatkan wakil sultan yang disebut sangaji. Sultan Baabullah selanjutnya dijuluki "penguasa 72 pulau". Pulau-pulau itu semuanya berpenghuni dan mempunyai raja yang tunduk kepada Sultan Baabullah.

Masa muda

Dilahirkan tanggal 10 Februari 1528, kaicil (pangeran) Baab adalah putera Sultan Khairun (1535-1570) dengan permaisurinya Boki Tanjung, puteri Sultan Alauddin I dari Bacan. Sultan Khairun sangat memperhatikan pendidikan calon penggantinya, sejak kecil pangeran Baab bersama saudara-saudaranya telah digembleng oleh para mubalig dan panglima dimana ia memperoleh pemahaman tentang ilmu agama dan ilmu perang sekaligus. Sejak remaja ia juga telah turut mendampingi ayahnya menjalankan urusan pemerintahan dan kesultanan.
Ketika pecah perang Ternate–Portugis yang pertama (1559-1567), Sultan Khairun mengutus putera – puteranya sebagai panglima untuk menghantam kedudukan Portugis di Maluku dan Sulawesi, salah satunya adalah pangeran Baab yang kemudian tampil sebagai panglima yang cakap dan berhasil memperoleh kemenangan bagi Ternate. Ternate sukses menahan ambisi Portugis sekaligus memenangkan banyak wilayah baru.

Kematian Sultan Khairun

Setelah kejatuhan Ambon ke tangan Ternate dalam perang Ternate – Portugis yang pertama, Portugis terpaksa memohon damai kepada sultan Khairun yang kemudian disambut dengan itikad baik. Semua hak-hak istimewa Portugis menyangkut monopoli perdagangan rempah-rempah dihilangkan namun mereka tetap diperbolehkan untuk berdagang dan bersaing dengan pedagang nusantara serta pedagang asing lainnya secara bebas. Rupanya permohonan damai Portugis itu hanya kedok untuk mengulur waktu demi mengkonsolidasikan kembali kekuatan mereka, menunggu waktu yang tepat untuk membalas Ternate.
Dengan dalih ingin membicarakan dan merayakan hubungan Ternate – Portugis yang membaik, gubernur Portugis Lopez de Mesquita (1566-1570) mengundang sultan Khairun ke benteng Sao Paulo tanggal 25 Februari 1570 untuk jamuan makan. Sang sultan memenuhi undangan itu dan datang tanpa pengawal, tak dinyana setibanya di benteng ia dibunuh atas perintah De Mesquita. De Mesquita beranggapan dengan mengenyahkan sultan Khairun, Maluku akan kehilangan pemimpin hebat dan segera tercerai berai, akan tetapi ia lupa bahwa sultan Khairun memiliki pewaris – pewaris yang hebat terutama dalam diri pangeran Baab.



Kebangkitan Sultan Baabullah

Penobatan sebagai Sultan

Kematian Sultan Khairun yang tragis memicu kemarahan rakyat dan juga para raja di Maluku, dewan kerajaan atas dukungan rakyat lalu menobatkan Kaicil Baab sebagai Sultan Ternate berikutnya bergelar Sultan Baabullah Datu Syah. Dalam pidato penobatannya Sultan Baabullah bersumpah bahwa ia akan berjuang untuk menegakkan kembali panji - panji Islam di Maluku dan menjadikan kesultanan Ternate sebagai kerajaan besar serta melakukan tindakan balasan sampai orang terakhir bangsa Portugis meninggalkan wilayah kerajaannya.

Beberapa jam setelah jasad Sultan Khairun ditemukan, para pejabat tinggi istana dan para pemuka masyarakat segera bersepakat untuk menobatkan sang putra mahkota. Pangeran Baab pun resmi menjadi penguasa Kesultanan Ternate dengan gelar Sultan Baabullah Datu Syah.

Saat itu juga di atas singgasananya, Sultan Baabullah bersumpah akan membalaskan dendam sang ayah dan mengusir bangsa penjajah. Ia tidak akan berhenti berperang sebelum orang Portugis terakhir pergi dari wilayah kerajaannya (Djokosurjo, Agama dan Perubahan Sosial, 2001:126).

Sang sultan baru tak main-main. Strategi tempur segera dirancang. Tak cuma berniat menghancurkan lawan di area sekitar Ternate saja, ia juga bertekad menghabisi orang-orang Portugis yang ada di seluruh Kepulauan Maluku. Ambon, Seram, Bacan, Banggai, Buton, Luwik, Sula, Halmahera, hingga Celebes dikondisikan untuk menyiapkan serangan besar-besaran.

Tak hanya itu, Sultan Baabullah juga meminta bantuan Makassar, Jawa, hingga Melayu (Sumatera), untuk bersama-sama melenyapkan kaum kolonialis dari bumi Maluku. Sultan mengobarkan Perang Soya-Soya atau perang pembebasan negeri dengan menyiapkan 2000 armada perahu tempur beserta lebih dari 120.000 prajurit.

Sejak 1571, pos-pos Portugis di berbagai tempat dihancurkan. Benteng penjajah pun satu per satu dapat direbut, dari Fort Tolocce, Santo Lucia Fortress, hingga Santo Pedro, tinggal Sao Paulo yang tersisa. Baabullah memang sengaja tidak langsung menyerang benteng yang didiami de Mesquita sekaligus lokasi pembunuhan ayahnya itu.

Sultan Baabullah menerapkan strategi pengepungan untuk Sao Paulo dengan menutup semua akses, baik jalan maupun distribusi bahan makanan yang dibatasi dalam jumlah tertentu. Benteng yang dibangun pada 1525 ini memang berlokasi tidak jauh dari pusat kesultanan dan termasuk ke dalam wilayah ibukota Ternate (Bambang Budi Utomo, Warisan Bahari Indonesia, 2016:157).

Pengepungan Benteng Sao Paulo berlangsung selama 5 tahun. Selama itu pula, orang-orang Portugis yang tinggal di dalamnya merasakan penderitaan yang teramat sangat dengan segala keterbatasan karena tidak bisa menjalin hubungan dengan dunia luar.

Sultan Baabullah akhirnya memberi kesempatan kepada para penghuni benteng untuk pergi dari wilayah Ternate dalam waktu 24 jam. Sementara bagi mereka yang sudah beristrikan wanita lokal boleh tetap tinggal tapi harus mengabdi kepada kerajaan.

Setelah 15 Juli 1575, Ternate telah bersih dari orang-orang Portugis. Pamor Portugis di Ternate dan sebagian besar Kepulauan Maluku runtuh total. Kekuasaan Sultan Baabullah kini mencapai puncaknya (Vlekke, Bernard H.M., Nusantara: Sejarah Indonesia, 2008:114).
 



Penelusuran yang terkait dengan Sultan Baabullah terhadap Portugis

0 Response to "Penyebab Perlawanan Sultan Baabullah terhadap Portugis ( Materi Lengkap )"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel