Sunday, 14 October 2018

Materi Sosiologi : Metode Penelitian Sosial

kampungilmu.web.id - Banyak faktor yang menjadi sumber masalah sosial di dalam masyarakat dan lingkungannya, antara lain faktor ekonomis, biologis, psikologis, dan kebudayaan setempat. Semua faktor itu memunculkan kekurangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial. Anda dapat menyaksikan berbagai peristiwa yang menyangkut masalah sosial melalui tayangan berita di berbagai media massa, atau dengan mengetahui langsung dalam lingkungan masyarakat sekitar. Setiap hari Anda dapat melihat mulai dari masalah biasa yang kurang mengundang keprihatinan sampai masalah yang sangat menyentuh keprihatinan kita. Kemiskinan, kelaparan, pengangguran, tawuran, pelacuran, kenakalan remaja, dan lain sebagainya. Berbagai peristiwa yang menyangkut masalah sosial tidak hanya terjadi pada saat ini, tetapi telah menjadi warisan turun temurun. Namun, saat ini mungkin lebih besar dan kompleks permasalahannya dibandingkan dengan peristiwa yang terjadi di masa lampau. Mengapa demikian?
Dapatkah anda memberikan alasannya?
           Untuk mengetahui semua itu, tentunya Anda harus peka terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di masyarakat. Pemecahan masalah sosial merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai anggota masyarakat. Pemerintah, ilmuwan, organisasi sosial, lembaga swadaya masyarakat, termasuk juga Anda sebagai pelajar dapat berperan aktif dalam memecahkan masalah sosial. Partisipasi tersebut salah satunya dapat Anda wujudkan dengan melakukan penelitian sosial.


  1. Pengertian Penelitian
Emile Durkheim, dalam bukunya Rules of Sociological Method yang menggambarkan metodologi yang ia teruskan dalam buku Suicide yang bercerita tentang sebab-sebab bunuh diri. Ia merencanakan desain risetnya dan mengumpulkan data tentang ciri-ciri orang melakukan bunuh diri.
Sejak tahun 1917, Samuel H. Prince dari Columbia University pertama kali menerapkan metodologi ilmu sosial pada pemecahan bencana besar ledakan kapal mesiu di Halifax Harbor, Nova Scotia, kejadian mengerikan yang membunuh 1600 orang. (Sumber: Sosiologi jilid 1, 1984)
Penelitian adalah kegiatan yang sistematik yang dimaksudkan untuk menambah pengetahuan yang sudah ada dengan cara yang dikomunikasikan dan dapat dinilai kembali. Metode merupakan cara yang dianjurkan untuk melaksanakan prosedur. Metodologi adalah studi mengenai tata cara dan teknik penelitian. (Sumber: Metode Penelitian Survei, 1989)
Istilah penelitian (research) telah banyak didefinisikan oleh para ahli dalam bidang metodologi research. Para ahli yang dimaksud antara lain sebagai berikut.
  1. Hill Way dalam bukunya Introduction to Research mendefinisikan penelitian sebagai suatu metode studi yang bersifat hati-hati dan mendalam dari segala bentuk fakta yang dapat dipercaya atas masalah tertentu guna membuat pemecahan masalah tersebut.
  2. Winarno Surachmad mendefinisikan penelitian atau penyelidikan sebagai kegiatan ilmiah mengumpulkan pengetahuan baru dari sumber-sumber primer, dengan tekanan tujuan pada penemuan prinsip-prinsip umum, serta mengadakan ramalan generalisasi di luar sampel yang diselidiki.
  3. Soetrisno Hadi mendefinisikan, penelitian sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan, usaha mana dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah.
Dari ketiga definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian adalah suatu kegiatan ilmiah untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan atau masalah guna mencari pemecahan terhadap masalah tersebut. Menurut Moh. Pabundu Tika, dalam penelitian terdapat lima unsur yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut.
  1. Unsur ilmiah, adalah penggunaan ilmu pengetahuan dan langkah-langkah penelitian sebagai metode berpikir. Langkah-langkah penelitian yang dimaksud adalah mulai dari pernyataan masalah, penyusunan hipotesis, pengumpulan data sampai dengan penarikan kesimpulan dan melaporkan hasilnya.
  2. Unsur penemuan, berarti berusaha mendapatkan sesuatu untuk mengisi kekosongan atau kekurangan.
  3. Unsur pengembangan, berarti memperluas dan menganalisis lebih dalam sesuatu yang sudah ada. Dalam hal ini, seseorang sudah pernah meneliti sesuatu objek tertentu, tetapi hasilnya belum memuaskan sehingga hasil penelitian tersebut masih perlu dikembangkan.
  4. Unsur pengujian kebenaran, diartikan sebagai mengetes hal-hal yang masih diragukan kebenarannya.
  5. Unsur pemecahan masalah, dimaksudkan untuk membuat pemecahan apabila dalam penelitian dijumpai berbagai masalah.
Menurut Hadari Nawawi, metode penelitian adalah ilmu yang memperbincangkan metode-metode ilmiah dalam menggali kebenaran pengetahuan, sedangkan menurut Soetrisno Hadi, metode penelitian adalah pelajaran yang memperbincangkan metode-metode ilmiah untuk suatu penelitian. Dengan demikian, metode penelitian sosial dapat diartikan sebagai pelajaran yang menjelaskan tentang metode-metode ilmiah untuk mengkaji kebenaran dan mengembangkan pengetahuan yang menyangkut gejala-gejala dan masalah sosial.
Sebelum suatu penelitian sosial dilaksanakan, terlebih dahulu dipersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan penelitian tersebut. Rencana penelitian ini dituangkan ke dalam suatu bentuk tulisan yang disebut rancangan penelitian atau desain penelitian. Rancangan penelitian adalah suatu rencana tentang cara mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data secara sistematis dan terarah agar penelitian dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif sesuai dengan tujuannya. Rancangan penelitian merupakan pedoman bagi seorang peneliti dalam melaksanakan penelitian agar data dapat dikumpulkan secara efisien dan efektif, serta dapat diolah dan dianalisis sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Baca Juga :

Materi Sosiologi Kelas XI: Permasalahan sosial dalam masyarakat


Rancangan penelitian dapat diibaratkan sebagai rencana seorang ibu rumah tangga yang ingin memasak. Ketika berangkat belanja bahan masakan, sejak dari rumah si ibu tersebut sudah merencanakan jenis masakan yang ingin dimasak. Berdasarkan jenis masakan tersebut, si ibu membuat rencana antara lain bahan-bahan apa saja yang perlu dibeli di pasar, berapa biayanya, waktu yang diperlukan, bagaimana cara mengolahnya, serta fasilitas atau peralatan yang diperlukan untuk mengumpulkan dan mengolah bahan tersebut sampai menjadi suatu masakan yang diinginkan.
Seorang peneliti juga seharusnya sejak awal sudah merencanakan objek yang akan diteliti; bagaimana cara mengumpulkan, mengolah dan menganalisis datanya; berapa waktu dan biaya yang diperlukan; serta fasilitas yang diperlukan agar data dapat diolah secara efisien dan efektif sesuai tujuan penelitian. Dengan demikian, kegunaan rancangan penelitian adalah:
  1. memberi pegangan yang lebih jelas dan terarah kepada peneliti dalam melakukan penelitiannya; dan
  2. memberikan gambaran tentang masalah atau kesulitan yang akan dihadapi.
Sama halnya dengan penelitian pada umumnya, rancangan penelitian sosial sekurang-kurangnya mempunyai ruang lingkup yang terdiri atas:
  1. penentuan judul penelitian;
  2. penentuan masalah penelitian;
  3. penentuan tujuan penelitian;
  4. tinjauan kepustakaan;
  5. penetapan hipotesis (kalau diperlukan);
  6. penentuan populasi dan sampel penelitian;
  7. penentuan metode dan teknik pengumpulan data;
  8. penentuan cara mengolah dan menganalisis data; dan
  9. daftar pustaka.
Pakaian merupakan suatu faktor penting dalam interaksi. Seseorang yang berbusana sebagai eksekutif muda jelas mendapat perlakuan berbeda dengan yang berpenampilan pemulung. Karp dan Yoels mengisahkan eksperimen L. Bickman; seseorang berpakaian seragam petugas keamanan memerintahkan sesuatu dan dengan mudah diikuti oleh para subjek eksperimen. Namun, ketika perintah yang sama diberikan oleh seseorang berpakaian tukang susu atau berpakaian jas dan dasi, ketaatan yang diperlihatkan para subjek eksperimen relatif kurang. (Sumber: Pengantar Sosiologi , 2004)
  1. Judul Penelitian
Terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam judul penelitian, yaitu penentuan judul dan syarat pemilihan judul.

2.1. Penentuan Judul
Penentuan judul penelitian sangat penting karena dalam judul tergambarkan objek dan subjek apa yang ingin diteliti, di mana lokasinya, tujuan dan sasaran apa yang ingin dicapai. Dalam menentukan judul penelitian, para peneliti bebas memilih sendiri judul yang diinginkan. Meskipun demikian, tidak mustahil muncul masalah yang kadang-kadang agak membingungkan untuk memilih judul penelitian yang paling tepat. Untuk itu, ada beberapa petunjuk yang perlu diperhatikan bagi seorang peneliti dalam menentukan judul penelitian, yaitu sebagai berikut.
  1. Keterjangkauan
Prinsip pertama yang harus diperhatikan ialah bahwa judul ataupun objek yang akan diteliti sedapat mungkin terjangkau oleh kemampuan peneliti. Keterjangkauan ini sangat bergantung pada beberapa faktor, yaitu tingkat pengetahuan peneliti, waktu dan biaya yang tersedia, kesulitan memperoleh pembimbing, serta kerja sama dengan pihak lain. Tingkat pengetahuan yang dimiliki peneliti adalah seberapa jauh seseorang mempunyai bekal pengetahuan yang diperoleh.
Di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan, para peneliti hendaknya memperhitungkan waktu dan biaya yang tersedia sebelum menentukan judul penelitian. Semakin lama waktu yang diperlukan untuk meneliti suatu subjek penelitian, semakin besar pula biaya yang dipergunakan. Waktu yang diperlukan agar tidak terlalu lama, dianjurkan peneliti memilih judul penelitian yang tidak terlalu luas ruang lingkupnya. Ruang lingkup suatu penelitian yang terlalu luas dapat berakibat terjadinya pemborosan waktu dan biaya.
Ketika melakukan penelitian, peneliti sering membutuhkan kerja sama dengan pihak lain, terutama dalam hal pengumpulan data. Para peneliti kadang-kadang mengalami kesulitan dalam pengumpulan data karena pihak lain yang berwenang tidak memberikan data dan tidak mau melakukan kerja sama dengan para peneliti. Oleh karena itu, sebelum menentukan judul penelitian, para peneliti sebaiknya sudah dapat memperkirakan pihak mana atau instansi-instansi mana saja yang kelak bisa mereka ajak kerja sama untuk mendapatkan data mengenai objek atau subjek yang rencananya akan diteliti.
Peneliti sebaiknya melakukan pre survei untuk mengetahui kondisi subjek atau objek penelitian sebelum penelitian yang sesungguhnya dilaksanakan. Penggalangan kerja sama dengan pihak yang berkompeten dalam pengumpulan data akan sangat menentukan keberhasilan suatu penelitian.
  1. Ketersediaan Data
Judul penelitian yang akan dipilih sedapat mungkin tersedia datanya. Para peneliti akan mengalami kesulitan apabila judul yang dipilih tidak tersedia datanya. Dalam penelitian sosial, data yang diperlukan biasanya berasal dari dua sumber, yaitu data lapangan dan data kepustakaan atau instansi.
Data lapangan biasanya juga disebut data primer, yakni data yang diperoleh langsung dari lapangan, baik berupa data fisik maupun data yang bersifat sosial ekonomi. Adapun data kepustakaan berasal dari instansi atau media massa yang biasanya disebut data sekunder, yakni data yang diperoleh, baik melalui perpustakaan maupun melalui instansi-instansi yang berwenang. Data ini merupakan data pendukung dari objek yang akan diteliti.
  1. Arti Penting dari Judul yang Dipilih
Pemilihan judul harus dilakukan dengan cermat. Hal ini dimaksudkan agar judul memiliki arti cukup penting untuk diteliti. Pentingnya judul sangat bergantung pada hal-hal berikut.
  1. Judul yang dipilih dapat mendukung atau memberikan sumbangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan khususnya bidang sosial selalu berkembang dari waktu ke waktu. Ilmu dalam pengembangannya diperlukan ide-ide atau penemuan-penemuan baru yang dapat dipakai sebagai dasar, hukum, atau teori-teori baru dalam bidang pengetahuan tersebut. Oleh karena itu, pemilihan judul penelitian sedapat mungkin dapat mendukung atau mengembangkan ilmu-ilmu sosial.
  2. Ada ketidakpuasan terhadap studi sebelumnya. Objek penelitian bisa saja sama dengan objek sebelumnya, namun judul penelitian baru bersifat mengembangkan penelitian yang dilakukan orang lain sebelumnya. Artinya, karena seseorang tidak puas dengan penelitian orang lain, peneliti berusaha meneliti dengan maksud untuk mengembangkan penelitian sebelumnya.
  3. Menarik minat untuk diselidiki. Seseorang yang memilih judul penelitian seharusnya disesuaikan dengan minatnya, jangan memilih judul penelitian yang bertentangan dengan minat karena dapat menimbulkan kebosanan dan ketidakpuasan.

2.2. Syarat Pemilihan Judul
Ada beberapa syarat yang diperlukan dalam pemilihan judul penelitian, antara lain sebagai berikut.
  1. Judul Ditetapkan Setelah Peneliti Mengetahui Permasalahan Pokok Objek yang Akan Diteliti
Setiap objek yang akan diteliti diperlukan pengungkapan secara garis besar dan visual atas kemungkinan-kemungkinan permasalahan yang ada. Misalnya, kita ingin meneliti “motivasi perpindahan penduduk di desa A dan desa B”. Antara desa A dan desa B mempunyai lokasi yang saling berdekatan, tetapi motivasi perpindahannya saling berbeda. Penduduk desa A banyak yang pindah karena faktor ekonomi, yakni sulit memperoleh mata pencaharian, sedangkan desa B perpindahan penduduknya disebabkan oleh faktor politik, misalnya mereka merasa tertekan apabila tinggal di desa tersebut. Setelah garis besar permasalahan tersebut diketahui, baru kemudian ditentukan judul penelitian, misalnya “Studi Perbandingan Motivasi Perpindahan Penduduk Antara Desa A dan Desa B”.
  1. Judul Penelitian Mencerminkan Keseluruhan Isi Penulisan
Dari judul penelitian, kita dapat memperkirakan apa kegiatan dan isi penulisan yang dibuat seorang peneliti. Misalnya dengan judul “Studi Perbandingan Motivasi Perpindahan Penduduk Antara Desa A dan Desa B”, kita dapat menebak bahwa peneliti akan lebih menitikberatkan kegiatan penelitiannya pada motivasi perpindahan penduduk, sedangkan isi penulisan akan mengarah kepada perbandingan motivasi perpindahan penduduk Antara desa A dan desa B.
  1. Judul Harus Menggunakan Kalimat Singkat dan Jelas
Setiap judul penelitian harus menggunakan kalimat singkat dan jelas. Judul yang terlalu panjang atau bertele-tele dapat membingungkan pembaca.
Peneliti terkadang kurang memperhatikan hasil sosiolog lain yang berkecimpung dalam bidang yang sama. Hal ini dapat menimbulkan konflik perihal masalah keaslian temuan yang telah dilakukan setiap peneliti. Misalnya, Luc Montagilier Pasteur di Paris dan Gallo dari Institut Kesehatan AS di Bathesda, masing-masing bersiteguh bahwa mereka yang pertama kali menemukan virus HIV yang menjadi penyebab penyakit AIDS. (Sumber: Sosiologi jilid 1, 1999)
Contoh Soal (UN SMA IPS, 2005) :
Judul penelitian “Pengaruh Narkoba Terhadap Tingkat Perkembangan Prestasi Belajar”. Variabel penelitian adalah ….
  1. kriminalitas dan pengaruhnya
  2. prestasi belajar dan narkoba
  3. pengaruh narkoba dan perkembangan prestasi belajar
  4. perilaku menyimpang dan akibatnya
  5. narkoba dan tingkat perkembangan jiwa anak
Jawaban: c
Judul penelitian “Pengaruh Narkoba Terhadap Tingkat Perkembangan Prestasi Belajar”.
Variabel 1: pengaruh narkoba
Variabel 2: tingkat perkembangan prestasi belajar


Baca Juga:

Materi Sosiologi Kelas XI: Pembentukan Kelompok Sosial


  1. Masalah Penelitian
Peneliti dari awal harus memikirkan bagaimana menemukan dan merumuskan masalah penelitian.

3.1. Peranan Masalah
Dalam penelitian, masalah sangat berperan untuk mengarahkan seorang peneliti melakukan kegiatan penelitiannya. Jika tidak merumuskan masalah, para peneliti dapat mengalami kebingungan, baik dalam pelaksanaan kegiatan penelitian maupun dalam penulisan. Judul suatu penelitian sebenarnya sudah merupakan suatu bentuk masalah. Akan tetapi, masalah yang terkandung dalam judul tersebut masih bersifat global dan masih perlu diperinci lagi. Bagi peneliti, semua perincian masalah dapat memperjelas apa saja yang perlu diteliti. Dengan kata lain, semua perincian masalah akan dapat mengarahkan seorang peneliti untuk sampai pada sasaran yang ingin dicapai.
Ada beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan dalam memperinci masalah utama (judul penelitian), yaitu bahwa perincian masalah:
  1. masih berhubungan erat dengan masalah utama (judul penelitian);
  2. mendukung tujuan penelitian;
  3. mengembangkan atau memperluas cara-cara menguji suatu teori;
  4. memberikan sumbangan kepada pengembangan metodologi penelitian;
  5. memanfaatkan konsep-konsep teori atau data dan teknik dari disiplin yang bertalian; dan
  6. menunjukkan variabel-variabel apa saja yang perlu diteliti.

3.2. Sumber Masalah Penelitian
Masalah penelitian yang baik adalah menarik bagi peneliti sehingga memiliki tanggung jawab untuk memecahkannya. Untuk mendapatkan masalah penelitian, perhatikan hal-hal berikut.
  1. Masalah dapat diperoleh dari kehidupan sehari-hari karena menjumpai hal-hal yang aneh atau didorong oleh keinginan untuk meningkatkan hasil kerja dan rasa ingin tahu untuk mengetahui atau menguji suatu teori (pendapat).
  2. Masalah dapat diperoleh dari membaca buku, jurnal, koran, majalah, atau hasil penelitian orang lain.
  3. Masalah dapat diperoleh dengan cara diberi oleh orang lain, terutama berhubungan dengan pemegang kekuasaan (otoritas) atau guru.
  4. Masalah dapat diperoleh dari hasil pengamatan peneliti secara langsung di lapangan.
  5. Masalah dapat diperoleh dari hasil diskusi dengan teman atau seminar yang diselenggarakan oleh suatu lembaga
Secara garis besar, masalah penelitian terdiri atas tiga jenis atau bentuk, yakni sebagai berikut.
  1. Masalah untuk mengetahui status dan mendeskripsikan fenomena. Apabila peneliti bermaksud mengetahui keadaan mengenai apa dan bagaimana, berapa banyak, sejauh mana, dan sebagainnya, penelitiannya bersifat deskriptif yaitu menjelaskan suatu peristiwa.
  2. Masalah untuk membandingkan dua fenomena atau lebih. Dalam melakukan perbandingan, penelitian selalu memandang dua fenomena atau lebih, ditinjau dari persamaan dan perbedaan yang ada, maka untuk mengungkapnya dilakukan penelitian yang bersifat komparatif.
  3. Masalah untuk mencari hubungan antara dua fenomena atau lebih (problema korelasi). Penelitian korelasi bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, bagaimana erat atau tidaknya hubungan-hubungan itu.

3.3. Petunjuk Penentuan Masalah Penelitian
  1. Merumuskan dan Membatasi Masalah Penelitian
Masalah penelitian harus dirumuskan dengan jelas dan tegas, tetapi tidak lepas dari judul dan tujuan penelitian. Seperti dikatakan dalam uraian sebelumnya, judul penelitian itu sendiri sebenarnya sudah merupakan bentuk masalah yang masih terlalu umum dan global sehingga masih perlu diperinci lebih lanjut. Masalah perlu dibatasi agar peneliti dapat membatasi diri pada apa saja yang perlu dan tidak perlu untuk diteliti. Peneliti harus menegaskan bahwa ia akan meneliti masalah tertentu dan aspek tertentu yang berhubungan dengan judul penelitian, dengan membuat pernyataan atau pertanyaan-pertanyaan pokok yang perlu dikaji lebih lanjut.
Sebagai contoh, orang dapat memakai rancangan penelitian dengan judul “Pengaruh Pembangunan Industri terhadap Peningkatan Urbanisasi di Kota Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat”. Judul tersebut sudah tampak masalah umumnya, yakni terjadinya urbanisasi di Kota Cikarang dan hal tersebut akan menimbulkan berbagai masalah terhadap Pemerintah Kota Cikarang.
Untuk memperjelas masalah umum tersebut, masih perlu dibuatkan rumusan dan pembatasan masalah lebih lanjut dengan membuat pertanyaan-pertanyaan masalah seperti berikut.
  1. Urbanisasi di Kota Cikarang berasal dari golongan masyarakat mana saja?
  2. Apakah benar hanya pembangunan industri yang merupakan penyebab utama terjadinya urbanisasi?
  3. Apa dampak positif dan negatif urbanisasi terhadap kehidupan sosial ekonomi penduduk dan Pemerintah Kota Cikarang?
  4. Adakah cara yang paling tepat dilakukan guna mencegah terjadinya urbanisasi?
  5. Tersediakah fasilitas permukiman dalam mengantisipasi terjadinya urbanisasi?
Dengan perumusan dan pembatasan masalah seperti itu, peneliti akan mudah melakukan kegiatan penelitian khususnya yang menyangkut pengumpulan data dan metode yang digunakan dalam pengumpulan data.
  1. Asumsi (Anggapan Dasar)
Asumsi adalah suatu pernyataan pokok yang dibuat dalam suatu penelitian dan secara umum dapat diterima kebenarannya walaupun tanpa pembuktian. Asumsi bukan merupakan teori, melainkan hanya merupakan pernyataan (statement) yang menyangkut keadaan atau gejala-gejala umum yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Pernyataan tentang keadaan atau gejala-gejala umum yang dibuat harus disesuaikan dengan isi atau makna yang terkandung dalam judul penelitian. Dari judul yang menyangkut “Pengaruh Pembangunan Industri terhadap Peningkatan Urbanisasi di Kota Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat”, misalnya, orang dapat membuat asumsi bahwa “urbanisasi penduduk terjadi karena sulitnya memperoleh mata pencaharian di daerah pedesaan”.
Pernyataan ini menunjukkan secara umum orang tahu bahwa penyebab urbanisasi adalah karena kesulitan memperoleh mata pencaharian di pedesaan sehingga penduduk ingin mencari mata pencaharian yang lebih layak di kota. Contoh lain, dari judul “Pengaruh Pergaulan Remaja terhadap Keberhasilan Studi “, orang dapat membuat suatu asumsi bahwa faktor lingkungan dan pergaulan sangat memengaruhi perilaku dan kepribadian seseorang, yang selanjutnya dapat memengaruhi keberhasilan hidupnya.

Baca Juga:

Materi Kelas X: Ragam Gejala Sosial dalam Masyarakat Lengkap

  1. Istilah-Istilah
Istilah-istilah, konsep-konsep, atau kata-kata yang penting dan mengandung makna tertentu perlu diberi batasan atau definisi agar tidak menimbulkan salah penafsiran bagi pembacanya. Istilah-istilah, konsep-konsep, atau kata-kata penting yang digunakan dalam penelitian atau penulisan dibuatkan batasan atau definisi dengan cara mengutip melalui ensiklopedia, pendapat para ahli, atau berdasarkan definisi sendiri yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai contoh: urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari pedesaan ke kota; masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul atau saling berinteraksi secara tetap dan memiliki kepentingan yang sama; enkulturasi yaitu proses seorang individu mempelajari dan menyesuaikan pikiran serta sikapnya dengan adat isiadat, sistem norma, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya.

  1. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian sangat bergantung pada judul dan masalah penelitian. Tujuan penelitian dapat mengarahkan peneliti untuk mencapai sasaran dan target yang ingin dicapai. Dengan kata lain, tujuan penelitian dimaksudkan sebagai jawaban yang ingin ditemukan dari suatu penelitian. Perumusan tujuan penelitian harus sejalan dengan rumusan masalah penelitian. Tujuan suatu penelitian terdiri atas tujuan utama dan tujuan sekunder.
Tujuan utama sangat erat kaitannya dengan judul dan rumusan masalah penelitian. Sebagai contoh, dari judul “Pengaruh Pembangunan Industri terhadap Peningkatan Urbanisasi di Kota Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat”, kita dapat menentukan tujuan utama penelitian, sebagai berikut.
  1. Untuk meneliti dampak pembangunan industri dapat mempengaruhi peningkatan urbanisasi di Kota Cikarang.
  2. Untuk meneliti dampak positif dan negatif urbanisasi terhadap kehidupan sosial ekonomi penduduk dan pemerintah Kota Cikarang.
  3. Untuk meneliti penyediaan permukiman dalam mengantisipasi terjadinya urbanisasi penduduk.
  4. Untuk meneliti cara-cara mengatasi urbanisasi penduduk.
Keterkaitan tujuan dengan rumusan masalah penelitian jika adalah sebagai berikut.
Tujuan : Untuk meneliti dampak jauh pembangunan industri dapat mempengaruhi peningkatan urbanisasi di Kota Cikarang.
Rumusan masalah penelitian : Berapakah persentase peningkatan urbanisasi akibat pembangunan industri di Kota Cikarang?
Seorang peneliti harus memfokuskan penelitiannya pada tujuan utama. Tujuan sekunder suatu penelitian lebih bersifat subjektif bagi peneliti, berarti tujuan sekunder sangat bergantung pada keinginan pribadi seorang peneliti, antara lain:
  1. ingin menerapkan ilmu sosiologi yang diperoleh selama di SMA;
  2. ingin memberi sumbang saran kepada pemerintah dalam mengatasi pesatnya urbanisasi penduduk; dan
  3. sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata pelajaran Sosiologi.
Dalam pembuatan rancangan penelitian, kadang-kadang siswa tidak membedakan antara tujuan utama dan tujuan sekunder. Mereka hanya membuat tujuan penulisan. Cara seperti ini bisa dilakukan, tetapi harus diatur nomor-nomor tujuannya sesuai urutan prioritas. Siswa terkadang keliru dalam menempatkan urutan prioritas tujuan penelitian, yaitu tujuan sekunder ditempatkan pada urutan pertama, kedua, dan seterusnya, sedangkan tujuan utama ditempatkan pada urutan ketiga sampai urutan terakhir.
Tujuan utama seharusnya ditempatkan pada urutan pertama, kedua, dan seterusnya, sedangkan tujuan sekunder ditempatkan pada urutan setelah tujuan utama sampai urutan terakhir. Misalnya, judul penelitian “Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Besarnya Angka Pengangguran”, tujuan penelitian dapat dibuat urutan prioritasnya sebagai berikut.
  1. Untuk meneliti faktor-faktor penyebab rendahnya tingkat pendidikan.
  2. Untuk meneliti pengaruh tingkat pendidikan terhadap angka pengangguran.
  3. Untuk mencari pemecahan terhadap tingkat partisipasi pendidikan dan cara mengatasi besarnya angka pengangguran.
  4. Untuk memberi sumbang saran kepada pemerintah dalam mengatasi tingkat partisipasi pendidikan dan pengangguran.
  5. Sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata pelajaran Sosiologi.
Dari urutan tersebut, tampak bahwa tujuan utama tercantum pada urutan 1, 2, dan 3, sedangkan tujuan sekunder pada urutan 4 dan 5. Dengan cara seperti ini, seorang peneliti akan lebih memfokuskan dirinya dalam melakukan penelitian pada tujuan utama. Manfaat penelitian dapat bersifat praktis, misalnya mempermudah pengambilan kebijakan atau keputusan, dan bersifat teoretis, misalnya memperkaya dan mengembangkan wawasan ilmu pengetahuan.
Manfaat penelitian perlu dikemukakan agar diketahui hasil yang hendak dicapai dari penelitian dan untuk siapa hasil penelitian tersebut digunakan. Rumusan tentang manfaat penelitian adalah kelanjutan dari tujuan penelitian.
Berikut ini merupakan bagan dari keterkaitan antara tujuan dan manfaat penelitian.
Tujuan Penelitian : Untuk meneliti pembangunan industri dapat mempengaruhi peningkatan urbanisasi di Kota Cikarang.
Manfaat Penelitian : Dengan diketahuinya seberapa jauh pembangunan industri memengaruhi peningkatan urbanisasi, penelitian dapat dijadikan pedoman bagi usaha mengatasi urbanisasi.
  1. Tinjauan Pustaka
Tinjauan kepustakaan juga dikenal dengan istilah studi kepustakaan yang memiliki fungsi sebagai berikut.
  1. Memperdalam pengetahuan tentang masalah yang diteliti sehingga permasalahan dapat dikuasai dengan baik.
  2. Menegaskan kerangka teoretis yang dijadikan landasan berpikir dalam menjawab masalah penelitian yang diajukan.
  3. Mempertajam konsep yang digunakan sehingga memudahkan perumusan hipotesis.
Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh dalam tinjauan kepustakaan adalah sebagai berikut.
  1. Mempelajari hasil yang diperoleh dari setiap sumber yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan.
  2. Mempelajari berbagai metode yang akan digunakan dalam penelitian.
  3. Mengumpulkan data dari sumber lain yang berhubungan dengan masalah penelitian.
  4. Mempelajari analisis deduktif dari permasalahan yang telah diteliti atau dilakukan oleh orang lain sebelumnya.
Seorang peneliti tentunya harus bersikap selektif dalam mencari sumber-sumber bacaan. Artinya, tidak semua bahan kepustakaan yang ada perlu ditelaah, tetapi harus mencerminkan kemutakhiran (sumber yang digunakan harus up to date atau tidak ketinggalan zaman), dan relevan dengan masalah yang diteliti.
  1. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap suatu masalah. Jawaban tersebut masih perlu diuji kebenarannya. Seorang peneliti pasti akan mengamati sesuatu gejala, peristiwa, atau masalah yang menjadi fokus perhatiannya. Sebelum mendapatkan fakta yang benar, mereka akan membuat dugaan tentang gejala, peristiwa, atau masalah yang menjadi titik perhatiannya tersebut. Misalnya, seseorang meneliti kenakalan remaja. Di dalam benak peneliti akan timbul berbagai dugaan antara lain sebagai berikut.
  1. Kenakalan remaja disebabkan oleh kurangnya perhatian orangtua terhadap anak mereka.
  2. Kenakalan remaja terjadi karena pengaruh film yang bertemakan kekerasan atau pornografi.
  3. Kenakalan remaja terjadi karena pendidikan agama kurang diperhatikan.
Semua pernyataan tersebut masih merupakan dugaan sementara yang perlu dibuktikan kebenarannya. Untuk membuktikannya, diperlukan data empiris atau data yang dapat diamati atau diukur.
Ada beberapa petunjuk untuk merumuskan hipotesis antara lain sebagai berikut.

6.1. Hipotesis Harus Mendukung Judul, Masalah, dan Tujuan Penelitian
Hipotesis yang baik adalah hipotesis yang searah atau mendukung judul, masalah, dan tujuan penelitian. Apabila judul penelitiannya adalah “Pengaruh Pembangunan Industri terhadap Peningkatan Urbanisasi di Kota Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat”, dengan masalah dan tujuan penelitian seperti dinyatakan dalam contoh tersebut, hipotesis dapat dibuat sebagai berikut.
  1. Ada hubungan erat antara pembangunan industri dan meningkatnya urbanisasi di Kota Cikarang, Kabupaten Bekasi.
  2. Penduduk yang melakukan urbanisasi sebagian besar mengalami peningkatan taraf hidup, tetapi di pihak lain menimbulkan permukiman kumuh penduduk di Kota Cikarang.
  3. Ada keterkaitan antara meningkatnya urbanisasi dan meningkatnya pembangunan perumahan di Kota Cikarang.

6.2. Hipotesis Harus Dapat Diuji Berdasarkan Data Empiris
Untuk menguji hipotesis, orang perlu mengumpulkan data empiris. Contoh hipotesis dengan memperkirakan adanya “hubungan erat antara pembangunan industri dan meningkatnya urbanisasi di Kota Cikarang”. Hipotesis itu harus diuji dengan data empiris. Data yang perlu dikumpulkan untuk menguji hipotesis tersebut antara lain:
  1. jumlah industri dan tenaga kerja yang diserap dari tahun ke tahun;
  2. jumlah penduduk urban di Kota Cikarang dari tahun ke tahun; dan
  3. pertumbuhan dan kepadatan penduduk Kota Cikarang dari tahun ke tahun.

6.3. Hipotesis Harus Bersifat Spesifik
Hipotesis agar bersifat spesifik, konsep-konsep yang digunakan harus jelas dan sedapat mungkin dapat diolah secara spesifik atau dapat digolongkan ke dalam kategori-kategori tertentu. Tiga contoh hipotesis pada nomor 1 tersebut sudah mengarah pada hipotesis yang bersifat spesifik. Dalam statistik dikenal dua hipotesis, yakni hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (Ha/H1). Hipotesis nol (H) adalah hipotesis yang menyatakan adanya kesamaan atau tidak adanya perbedaan atau tidak ada pengaruh antara dua variabel yang dipersoalkan.
ContoHnya:
  1. terdapat kesamaan tingkat prestasi yang dicapai antara siswa dan siswi dalam mata pelajaran Sosiologi di SMA X;
  2. tidak ada perbedaan pendapatan penduduk sebelum dan setelah melakukan urbanisasi di Kota Cikarang;
  3. tidak ada pengaruh antara pembangunan industri dan meningkatnya urbanisasi di Kota Cikarang.
Kebalikan dari hipotesis nol (H0) adalah hipotesis alternatif (H1). Hipotesis alternatif (H1) adalah suatu hipotesis yang menyatakan ketidaksamaan, perbedaan, atau adanya pengaruh antara dua variabel yang dipersoalkan. Contohnya:
  1. tidak ada kesamaan tingkat prestasi yang dicapai antara siswa dan siswi dalam mata pelajaran Sosiologi di SMA X;
  2. terdapat perbedaan pendapatan penduduk sebelum dan setelah melakukan urbanisasi di Kota Cikarang;
  3. ada pengaruh pembangunan industri terhadap meningkatnya urbanisasi di Kota Cikarang.
Hipotesis tersebut dapat diuji dengan metode statistik, seperti uji t, chi kuadrat, analisis korelasi, dan sebagainya. Berdasarkan hasil dari tes tersebut dapat ditemukan apakah hipotesis diterima atau ditolak.
Jika dalam pengetesan hipotesis “terdapat kesamaan tingkat prestasi yang dicapai antara siswa dan siswi dalam mata pelajaran Geografi di SMA X” dianggap benar, orang dapat menyatakan bahwa hipotesis nol (H0) dapat diterima, sedangkan hipotesis alternatif (H1) ditolak. Demikian pula apabila hipotesis alternatif (H1) diterima, hipotesis nol (H0) ditolak. Selanjutnya, cara pengetesan kedua hipotesis tersebut dapat diperdalam pada pelajaran statistik.
Selain beberapa ketentuan tersebut, terdapat persyaratan lain dalam merumuskan hipotesis, yaitu:
  1. hipotesis disusun dalam kalimat berita dan bukan kalimat tanya;
  2. hipotesis harus jelas dan tidak bermakna ganda; dan
  3. dirumuskan secara operasional sehingga memudahkan pengujiannya.
  1. Populasi dan Sampel
Menetapkan populasi dan sampel merupakan kegiatan dalam memilih subjek penelitan. Subjek penelitian dapat berupa benda, hal, atau tempat data untuk penelitian yang dipermasalahkan. Di dalam sebuah penelitian, subjek penelitian merupakan sesuatu yang sangat netral karena pada subjek penelitian data variabel yang akan diambil peneliti dan pada subjek penelitian dikenal populasi dan sampel.

7.1. Populasi
Jika seorang peneliti ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, penelitian dilaksanakan melalui populasi. Dilihat dari jumlahnya, populasi dapat dibedakan atas populasi terhingga, yaitu jumlahnya dapat ditentukan, dan populasi tak terhingga yang jumlahnya sulit untuk ditentukan. Untuk mengatasi kesulitan kedua populasi tersebut, dengan tidak mengurangi karakteristik umum populasi, peneliti melakukan pengambilan sampel
.
7.2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang dipilih untuk diteliti. Terdapat beberapa keuntungan jika orang menggunakan sampel, yaitu sebagai berikut.
  1. Subjek sampel lebih sedikit dibandingkan dengan populasi, kerepotannya tentu berkurang.
  2. Jika jumlah populasi terlalu besar, dikhawatirkan ada yang terlewati.
  3. Penelitian sampel akan lebih efisien dalam arti biaya, waktu, dan tenaga.
  4. ada kemungkinan terjadi bias apabila seluruh populasi diteliti, karena kelelahan peneliti (petugas) sehingga kurang teliti.
  5. Tidak mungkin untuk meneliti populasi yang jumlahnya banyak dan wilayahnya luas.
Teknik pengambilan sampel merupakan teknik sampling. Pengambilan sampel harus dilakukan agar sampel dapat menggambarkan populasi yang sebenarnya atau representatif.
Pengambilan sampel yang ideal mempunyai sifat-sifat berikut.
  1. Dapat menghasilkan gambaran yang dapat dipercaya dari seluruh populasi.
  2. Dapat menentukan ketepatan (presisi) dari hasil penelitian.
  3. Sederhana, sehingga mudah dilaksanakan.
  4. Dapat memberikan keterangan sebanyak-banyaknya dengan biaya serendah-rendahnya.
Beberapa cara pengambilan sampel penelitian dapat dilakukan sebagai berikut.
  1. Sampel Random (Sampel Acak, Sampel Campur)
Dalam pelaksanaannya, pengambilan sampel random dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1) Pengambilan Sampel dengan Cara Undian
Cara ini dapat dilakukan dengan jalan memasukkan kertas yang telah diberi tanda atau nama-nama populasi, ditentukan jumlah sampel yang akan diambil, kemudian dikocok dan yang keluar terlebih dahulu maka itulah sampel. Hal ini seperti awal pembukaan arisan.
2) Pengambilan Sampel dengan Cara Interval
Pengambilan sampel dengan cara ini berdasarkan sejumlah angka dari nama-nama populasi, tentukan banyaknya sampel yang akan diambil, kemudian buat rentang angka dari populasi tersebut.

Referensi :
Waluya, B. 2009. Sosiologi 3 : Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat untuk Kelas XII Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 146.
http://perpustakaancyber.blogspot.co.id/2013/05/metode-penelitian-sosial-contoh-pengertian.html

Related Posts

Materi Sosiologi : Metode Penelitian Sosial
4/ 5
Oleh